:)

:)

Senin, 10 Mei 2010

makalah tentang alih fungsi lahan pertanian dipengaruhi oleh masyarakat

MAKALAH

PENGENDALIAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN DIPENGARUHI OLEH PARTISIPASI MASYARAKAT

1. PENDAHULUAN

Sejak manusia pertama kali menempati bumi, lahan sudah menjadi salah satu unsur utama dalam menunjang kelangsungan kehidupan. Konkritnya, lahan difungsikan sebagai tempat manusia beraktivitas untuk mempertahankan eksistensi. Aktivitas yang pertama kali dilakukan adalah pemanfaatan lahan untuk bercocok tanam (pertanian). Seiring pertumbuhan populasi dan perkembangan peradaban manusia, penguasaan dan penggunaan lahan mulai terusik. Keterusikan ini akhirnya menimbulkan kompleksitas permasalahan akibat pertambahan jumlah penduduk, penemuan dan pemanfaatan teknologi, serta dinamika pembangunan. Lahan yang semula berfungsi sebagai media bercocok tanam (pertanian), berangsur-angsur berubah menjadi multifungsi pemanfaatan. Perubahan spesifik dari penggunaan untuk pertanian ke pemanfaatan bagi nonpertanian yang kemudian dikenal dengan istilah alih fungsi (konversi) lahan, kian waktu kian meningkat. Khusus untuk Indonesia, fenomena ini tentunya dapat mendatangkan permasalahan yang serius di kemudian hari, jika tidak diantisipasi secara serius dari sekarang. Implikasinya, alih fungsi lahan pertanian yang tidak terkendali dapat mengancam kapasitas penyediaan pangan, dan bahkan dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerugian sosial.

Sebetulnya sejumlah perundang-undangan telah dibuat dan berbagai peraturan sudah diciptakan, namun semuanya seakan-akan mandul dalam pengendalian alih fungsi lahan pertanian. Dengan kata lain, efektifitas implementasi instrumen pengendalian alih fungsi tersebut belum berjalan optimal sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, perlu diwujudkan suatu strategi pengendalian alternatif, yaitu yang dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat.


a. Latar Belakang

Di satu sisi, alih fungsi lahan pertanian yang tidak terkendali dapat mengancam kapasitas penyediaan pangan, dan bahkan dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerugian sosial. Di sisi lainnya, efektifitas implementasi instrumen pengendalian alih fungsi selama ini belum berjalan optimal sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, perlu diwujudkan suatu strategi pengendalian alternatif yang dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat.

a. Tujuan

Tujuan utama di buatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Geografi Desa dan Kota. Selain itu, Makalah ini juga bertujuan untuk :

(1) mengidentifikasi keragaman alih fungsi lahan pertanian dan kinerja pengendaliannya;

(2) merekomendasikan strategi alternatif pengendalian alih fungsi lahan, baik strategi peraturan kebijakan maupun strategi partisipasi masyarakat.

Strategi peraturan kebijakan mencakup komponen instrumen hukum dan ekonomi, zonasi, dan inisiatif masyarakat. Sementara itu, strategi partisipasi masyarakat ditempuh melalui pemahaman terhadap eksistensi pemangku kepentingan (stakeholder analysis). Dengan kata lain, strategi pengendalian alih fungsi lahan pertanian yang bertumpu pada partisipasi masyarakat adalah dengan melibatkan peran serta aktif segenap pemangku kepentingan (stakeholders) sebagai entry point perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan penilaian (fokus analisis) perundang-undangan dan peraturan yang ada melalui pendekatan sosialisasi dan advokasi.

b. Pokok Masalah

Adapun pokok masalah yang dibahas dalam makalah ini yaitu mengenai :

1.) alih fungsi lahan pertanian,

2.) pengendalian alih fungsi lahan pertanian,

3.) partisipasi masyarakat, dan

4.) pemangku kepentingan


2. ISI

Dua kata kunci dalam strategi pengendalian alih fungsi lahan pertanian adalah holistik dan komprehensif. Dengan kata lain, alih fungsi lahan pertanian harus jadi perhatian semua pihak, baik yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat di dalamnya. Pihak-pihak yang dimaksud merupakan tumpuan dengan dimensi cukup luas, yakni segenap lapisan masyarakat atau pemangku kepentingan (stakeholders) yang berhubungan secara nyata dan tidak nyata dengan alih fungsi lahan pertanian. Sehubungan dengan itu, dasar pemikiran mengenai strategi pengendalian alih fungsi lahan yang bertumpu pada masyarakat ini.

Terdapat tiga langkah dalam mewujudkan strategi pengendalian alih fungsi lahan pertanian yang bertumpu pada masyarakat. Pertama, titik tumpu (entry point) strategi pengendalian adalah melalui partisipasi segenap pemangku kepentingan. Hal ini cukup mendasar, mengingat para pemangku kepentingan adalah pihak-pihak yang bersentuhan langsung dengan proses alih fungsi lahan pertanian. Kedua, fokus analisis strategi pengendalian adalah sikap pandang pemangku kepentingan terhadap eksistensi peraturan kebijakan seperti instrumen hukum (peraturan perundang-undangan), instrumen ekonomi (insentif, disinsentif, kompensasi) dan zonasi (batasan-batasan alih fungsi lahan pertanian). Esensinya, sikap pandang pemangku kepentingan seyogyanya berlandaskan inisiatif masyarakat dalam bentuk partisipasi aksi kolektif yang sinergis dengan peraturan kebijakan, sesuai dengan harapan dan keinginan masyarakat. Ketiga, sasaran (goal) strategi pengendalian adalah terwujudnya pengendalian alih fungsi lahan pertanian yang selaras dan berkelanjutan.


3. PEMBAHASAN

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan perkembangan struktur perekonomian, kebutuhan lahan untuk kegiatan nonpertanian cenderung terus meningkat. Kecenderungan tersebut menyebabkan alih fungsi lahan pertanian sulit dihindari. Beberapa kasus menunjukkan jika di suatu lokasi terjadi alih fungsi lahan, maka dalam waktu yang tidak lama lahan di sekitarnya juga beralih fungsi secara progresif.

Hal tersebut disebabkan oleh dua faktor. Pertama, sejalan dengan pembangunan kawasan perumahan atau industri di suatu lokasi alih fungsi lahan, maka aksesibilitas di lokasi tersebut menjadi semakin kondusif untuk pengembangan industri dan pemukiman yang akhirnya mendorong meningkatnya permintaan lahan oleh investor lain atau spekulan tanah sehingga harga lahan di sekitarnya meningkat. Kedua, peningkatan harga lahan selanjutnya dapat merangsang petani lain di sekitarnya untuk menjual lahan.

Kemudian pelaku pembelian tanah biasanya bukan penduduk setempat, sehingga mengakibatkan terbentuknya lahan-lahan guntai yang secara umum rentan terhadap proses alih fungsi lahan. Secara empiris lahan pertanian yang paling rentan terhadap alih fungsi adalah sawah. Hal tersebut disebabkan oleh :

(1) kepadatan penduduk di pedesaan yang mempunyai agroekosistem dominan sawah pada umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan agroekosistem lahan kering, sehingga tekanan penduduk atas lahan juga lebih tinggi;

(2) daerah pesawahan banyak yang lokasinya berdekatan dengan daerah perkotaan;

(3) akibat pola pembangunan di masa sebelumnya, infrastruktur wilayah pesawahan pada umumnya lebih baik dari pada wilayah lahan kering; dan

(4) pembangunan prasarana dan sarana pemukiman, kawasan industri, dan sebagainya cenderung berlangsung cepat di wilayah bertopografi datar, dimana pada wilayah dengan topografi seperti itu (terutama di Pulau Jawa) ekosistem pertaniannya dominan areal persawahan. Maraknya fenomena alih fungsi lahan pertanian sudah seyogyanya jadi perhatian semua pihak.

Sebetulnya berbagai kebijakan yang berkaitan dengan masalah pengendalian alih fungsi lahan sawah sudah banyak dibuat. Paling tidak ada 10 peraturan/perundang-undangan yang berkaitan dengan pengendalian alih fungsi lahan sawah. Akan tetapi, hingga kini implementasinya belum berhasil diwujudkan secara optimal. Hal ini antara lain karena kurangnya dukungan data dan minimnya sikap proaktif yang memadai ke arah pengendalian alih fungsi lahan sawah tersebut. Terkait dengan itu, terdapat tiga kendala mendasar yang menjadi alasan mengapa peraturan pengendalian alih fungsi lahan sulit terlaksana, yaitu :

1. Kendala Koordinasi Kebijakan. Di satu sisi pemerintah berupaya melarang terjadinya alih fungsi lahan, tetapi di sisi lain justru mendorong terjadinya alih fungsi lahan tersebut melalui kebijakan pertumbuhan industri/manufaktur dan sektor nonpertanian lainnya yang dalam kenyataannya menggunakan tanah pertanian.

2. Kendala Pelaksanaan Kebijakan. Peraturan-peraturan pengendaliah alih fungsi lahan baru menyebutkan ketentuan yang dikenakan terhadap perusahaan-perusahaan atau badan hukum yang akan menggunakan lahan dan atau akan merubah lahan pertanian ke nonpertanian. Oleh karena itu, perubahan penggunaan lahan sawah ke nonpertanian yang dilakukan secara individual/perorangan belum tersentuh oleh peraturan-peraturan tersebut, dimana perubahan lahan yang dilakukan secara individual diperkirakan sangat luas.

3. Kendala Konsistensi Perencanaan. RTRW yang kemudian dilanjutkan dengan mekanisme pemberian izin lokasi, merupakan instrumen utama dalam pengendalian untuk mencegah terjadinya alih fungsi lahan sawah beririgasi teknis. Namun dalam kenyataannya, banyak RTRW yang justru merencanakan untuk mengalih fungsikan lahan sawah beririgasi teknis menjadi nonpertanian.

sehubungan dengan tiga kendala di atas, tidak efektifnya peraturan yang telah ada, juga dipengaruhi oleh : (1) lemahnya sistem administrasi tanah; (2) kurang kuatnya koordinasi antar lembaga terkait; dan (3) belum memasyarakatnya mekanisme implementasi tata ruang wilayah. Di samping itu, persepsi pemerintah tentang kerugian akibat alih fungsi lahan sawah cenderung bias ke bawah (under estimate), sehingga dampak negatif alih fungsi lahan sawah tersebut kurang dianggap sebagai persoalan yang perlu ditangani secara serius dan konsisten.

4. PENUTUP

Setelah di telaah lebih lanjut, bahwa dari beberapa peraturan perundang-undangan alih fungsi lahan pertanian yang ada memiliki berbagai kelemahan. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain : 1. Obyek lahan pertanian yang dilindungi dari proses alih fungsi ditetapkan berdasarkan kondisi fisik lahan, padahal kondisi fisik lahan tersebut relatif mudah direkayasa, sehingga alih fungsi lahan dapat berlangsung tanpa melanggar peraturan yang berlaku. 2. Peraturan yang ada cenderung bersifat himbauan dan tidak dilengkapi sanksi yang jelas, baik yang menyangkut dimensi maupun pihak yang dikenai sanksi. 3. Jika terjadi alih fungsi lahan pertanian yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku, maka sulit ditelusuri pihak mana yang paling bertanggung-jawab, mengingat izin alih fungsi lahan merupakan keputusan kolektif berbagai instansi. 4. Peraturan perundangan-undangan yang berlaku kadangkala bersifat paradoksal dan dualistik. Di satu sisi bermaksud untuk melindungi alih fungsi lahan sawah, namun di sisi lainnya pemerintah cenderung mendorong pertumbuhan industri yang notabene basisnya membutuhkan lahan.

Selain beberapa hal dikemukakan di atas, terdapat dua faktor strategis lainnya yang selama ini tertinggalkan. Pertama, belum banyak dilibatkannya petani sebagai pemilik lahan dan pelaku dalam kelembagaan lokal secara aktif dalam berbagai upaya pengendalian alih fungsi lahan pertanian. Kedua, belum terbangunnya komitmen, perbaikan sistem koordinasi, dan pengembangan kompetensi lembaga-lembaga formal dalam menangani alih fungsi lahan pertanian. Akhirnya, kondisi tersebut menyebabkan instrumen kebijakan pengendalian alih fungsi lahan pertanian yang selama ini telah disusun, tidak dapat menyentuh secara langsung simpul-simpul kritis permasalahan empiris yang terjadi di lapangan.

a. Kesimpulan

Dapat di pahami bahwa penyebab terjadinya alih fungsi lahan pertanian boleh dikatakan bersifat multidimensi. Oleh karena itu, upaya pengendaliannya tidak mungkin hanya dilakukan melalui satu pendekatan saja. Mengingat nilai keberadaan lahan pertanian bersifat multifungsi, maka keputusan untuk melakukan pengendaliannya harus memperhitungkan berbagai aspek yang- melekat pada- eksistensi lahan itu sendiri. Hal tersebut mengingat lahan yang ada mempunyai nilai yang berbeda, baik ditinjau dari segi jasa (service) yang dihasilkan maupun beragam fungsi yang melekat di dalamnya.

Strategi pengendalian alih fungsi lahan pertanian yang dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat adalah dengan melibatkan peran serta aktif segenap pemangku kepentingan (stakeholders) sebagai entry point perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan penilaian (fokus analisis) perundang-undangan dan

peraturan yang ada. Namun perlu digarisbawahi bahwa partisipasi masyarakat tidak akan terwujud bila tidak diiringi dengan pendekatan dalam bentuk sosialisasi

dan advokasi. Hal demikian mengingat masyarakat sendiri memiliki tipologi kemajemukan yang antara lain dicirikan oleh perbedaan (stratifikasi) sosial dengan ikatan kaidah, institusi, dan perilaku. Pola yang bersifat penekanan atau bujukan (inducement) seyogyanya dihindari dan digantikan dengan pendekatan yang berlandaskan tipologi kemajemukan masyarakat diiringi dengan pemahaman dan apresiasi terhadap kearifan lokal (local wisdom) setempat. Dalam skala makro, salah satu pendekatan yang patut dipertimbangkan adalah yang bersifat filosofis eksistensi lahan dan manusia.

b. Saran

Perlu direkomendasikan tiga pendekatan secara bersamaan dalam kasus pengendalian alih fungsi lahan sawah (wetland), yaitu melalui : (1) regulation; (2) acquisition and management; dan (3) incentive and charge.

Uraian singkat dari ketiga pendekatan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Regulation. Melalui pendekatan ini pengambil kebijakan perlu menetapkan sejumlah aturan dalam pemanfaatan lahan yang ada. Berdasarkan berbagai pertimbangan teknis, ekonomis, dan sosial, pengambil kebijakan bisa melakukan pewilayahan (zoning) terhadap lahan yang ada serta kemungkinan bagi proses alih fungsi. Selain itu, perlu mekanisme perizinan yang jelas dan transparan dengan melibatkan semua pemangku kepentingan yang ada dalam proses alih fungsi lahan. Dalam tatanan praktisnya, pola ini telah diterapkan pemerintah melalui penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah dan pembentukan Tim Sembilan di tingkat kabupaten dalam proses alih fungsi lahan. Sayangnya, pelaksanaan di lapangan belum sepenuhnya konsisten menerapkan aturan yang ada.

2. Acquisition and Management. Melalui pendekatan ini pihak terkait perlu menyempurnakan sistem dan aturan jual beli lahan serta penyempurnaan pola penguasaan lahan (land tenure system) yang ada guna mendukung upaya ke arah mempertahankan keberadaan lahan pertanian.

3. Incentive and Charges. Pemberian subsidi kepada para petani yang dapat meningkatkan kualitas lahan yang mereka miliki, serta penerapan pajak yang menarik bagi yang mempertahankan keberadaan lahan pertanian, merupakan bentuk pendekatan lain yang disarankan dalam upaya pencegahan alih fungsi lahan pertanian. Selain itu, pengembangan prasarana yang ada lebih diarahkan untuk mendukung pengembangan kegiatan budidaya pertanian berikut usaha ikutannya.

Mengingat selama ini penerapan perundang-undangan dan peraturan pengendalian alih fungsi lahan kurang berjalan efektif serta berpijak pada acuan pendekatan pengendalian sebagaimana dikemukakan di atas, maka perlu diwujudkan suatu kebijakan alternatif. Kebijakan alternatif tersebut diharapkan mampu memecahkan kebuntuan pengendalian alih fungsi lahan sebelumnya.

Adapun komponennya antara lain instrumen hukum dan ekonomi, zonasi, dan

inisiatif masyarakat. Instrumen hukum meliputi penerapan perundang-undangan dan peraturan yang mengatur mekanisme alih fungsi lahan. Sementara itu, instrumen ekonomi mencakup insentif, disinsentif, dan kompensasi.

Sumber telaah:

Muhammad Iqbal dan Sumaryanto

(Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian)

laporan praktikum DDP final

ACARA I
(Pertemuan Ia: 90 menit)
TEODOLIT : PENGENALAN
Hari/Tanggal:...........................
Lokasi:.....................

A. Tujuan Instruksional Khusus
1. Mahasiswa mengamati secara langsung jenis alai ukur sudut dan perlengkapannya, bagian-bagian, fungsi dan pengoperasian dalam pengukuran sudut.
2. Mahasiswa mampu menujukkan bagian-bagian teodolit, statif, untuing-unting dan mengetahui fungsi-fungsinya; mengetahui bagian bawah, bagian tengah dan bagian atas teodolit ; skrup-skrup pengunci, skrup penggerak halos, lensa-lensa, Berta mempu mengainati perubahan _ perubahan pada teodolit jika komponen¬komponen tersebut digerakkan.
3. Mahasiswa niampu memperlakukan, membuka, menutup teodolit dengan kehati¬hatian dan mengetahui bagian-bagian sensitive teodolit yang perlu diwaspadai.

B. Peralatan
1. Teodolit
2. Statif
3. Payung
4. Alat tulis

C. Dasar Teori
1. Teodolit : klasifikasi dan bagian-bagiannya
a. Salah satu peralatan dalam pengukuran sudut, baik sudut vertikal rnaLlpun horisontal, adalah teodolit. Berdasarkan konstruksi sumbu vertikal (sumbu I), teodolit dibedakan menjadi : teodolit repetisi (sumbu ganda), teodolit reiterasi (sumbu tunggal). Berdasarkan tingkat ketelitiannya, teodolit dikasifikasikan menjadi: TO (tidak teliti/ ketelitian rendah : 20" ), TI (agak teliti : 20"-5"), T2 (teliti: V), T3 (teliti sekali: 0,1"), dan T4 (sangat teliti: 0,01"). Berdasar ada/tidak adanya bOLISSOle/komplas. teodolit dibedakan menjadi : wodolit boussole (teodolit kompas), teodolit offset boussole, teodolit tanpa boussole. Perbedaan teodolit didasarkan atas sistem skala pembacaan : skala garis, skAla digital ada yang sistem tunggal dan ganda atau coincident elektronik. Berdasarkan sistem senteringnya, teodolit dibedakan menjadi: sentering mekanis (dengan unting-unting), sentering optis, dan sentering tongkat teleskopik.
b. Bagian-bagian alat ukur sudut teodolit, bagian atas : teropong, lingkaran vertikal, sumbu horisontal/mendatar (sumbu II), klem teropong dan pengerak halus vertikal, dan nivo; bagian tengah : kaki penyangga sumbu 11 alhidade horisontal, piringan horisontal, klem dan penggerak halus horisontal, klem dan. penggerak halus limbus, nivo alhidade horisontal, mikroskop pembaca lingkaran horisontal; bagian bawah : tribrach (tempat tumpuan sumbu 1), nivo kotak, sekrup penyetel ABC, alat sentering (optis).

D. Langkah Kegiatan
1. Persiapkan peralatan yang dibutuhkan serta periksa kelengkapannya. Catat nomor serf alat ukur yang dipergunakan
2. Pilih tempat yang aman mendirikan alat ukur teodolit (tanah tidak rapuh terhindar dri gangguan lalu lintas, dsb)
3. Dirikan statif aman dan sesuai dengan keadaan setempat maupun juru ukur
4. Pasang alat ukur teodolit diatas statif dan eratkan dengan sekrup pengunci hingga aman.
5. Lindungi alat ukur teodolit dari panas langsung maupun air (hujan).

6. Gambar Alat Teodolit dalam 2 arah yang berbeda dan tunjukkan bagian-bagian alat tersebut beserta fungsinya!

E. Tugas
1. Lihat (garnbar teodolit sebutkan bagian-bagain alat ukur dan fungsinya!
2. Operasikan bagian-bagian alat ukur teodolit tersebut sesuai dengan fungsinya!
3. Buat laporan kegiatan praktikum, ini berisi : acara praktikum, waktu dan tempt pelaksanaan, alat, tujuan instruksional khusus, dasar teori, tahap-tahap kegiatan dan basil kegiatan, jawaban pendalaman materi. Laporan dilengkapi bagan teodolit beserta keterangannya..





















ACARA II
(Pertemuan Ib: 90 menit)
TEODOLIT: SET UP (LEVELING, SENTERING,
ELLIMINASI PARALAKS)
Hari/Tanggal:...........................
Lokasi:.....................

A. Tujuan Instruksional Khusus
1. Mahasiswa mampu melakukan pengaturan alat ukur teodolit sedemikian rupa sehingga kedudukannya tepat vertikal (sumbu I vertikal) di atas titik yang akan dilakukan pengukuran.
2. Di medan sederhana (datar ), mahasiswa mampu mendemonstrasikan pengaturan sumbu I vertikal (leveling), dan sentering baik metode optis maupun metoda unting-unting dalam waktu kurang dari 5 menit. Mahasiswa mampu mengkoordinasikan skrup-skrup teodolit (ABC) dengan skrup kaki statif dalam rangka leveling dan sentering tadi; clan mampu membedakan tahapan-tahapan kedua metode itu.

B. Peralatan
1. Teodolit
2. Statif
3. Unting-unting
4. Patok dan atau paku payung
5. Payung
6. Alat tulis

C. Dasar Teori
1. Konstruksi alat ukur teodolit terdiri dari 2 (dua) sumbu yang sating tegak lurus yaitu sumbu vertikal (sumbu I) dan sumbu horisontal (sumbu II).
2. Syarat utama pemakaian alat ukur teodolit. Tiga syarat utama pemakaian alat ukur teodolit adalah:
a. Sumbu I vertikal
b. Garis bidik tegak lurus II
c. Kesalahan indeks vertikal mendekati not.
3. Menset teodolit untuk pengamatan ada III tahapan:
a. Leveling up: prosedur membuat sumbu satu I benar-benar vertical.
b. Sentering: proses membawa mik tengah sumbu teodolit (sumbu I / sumbu vertikal) secara vertikal di atas pengamatan;
c. Eliminasi paralaks: pemfokusan teleskop untuk mernastikan bayangan target tepat berada di benang silang.
4. Kesalahan hasil pengukuran yang disebabkan oleh sumbu I teodolit tidak vertikal tidak dapat dihilangkan dengan melakukan rata-rata hasil pengamatan BIASA dan LUAR BIASA. Dengan demikian, persyaratan sumbu I vertikal ini mutlak harus dipenuhi setiap pengukuran.

D. Langkah Kegiatan
Tahapan leveling sebagai berikut:
1. Persiapkan peralatan yang dibutuhkan serta periksa kelengkapannya. Catat nomor seri alat ukur yang dipergunakan;
2. Pilih tempat yang aman untuk didirikan teodolit (tanah tidak rapuh, jauh dari gangguan lalulintas, dsb);
3. Pilih sebuah titik dan tandai dengan patok yang dipasang paku payung pada bagian atanya;
4. Dirikan statif dan sesuaikan dngan tinggi juru ukur;
5. Pasang teodolit di atas statil, dan eratkan/putar dengan sekrup pengunci hingga stabil;
6. Orientasikan teodolit tersebut dengan unting-unting atau dengan sentering optis sedemikian rupa sehingga mendekati tepat di atas titik yang telah ditandai dengan patok ber-paku payung;
7. Atur gelumbung nivo kotak ke tengah dengan skrup A, B dan C sebagaimana ditunjuk pada skema berikut: gelembung nivo dari posisi I ke posisi 2 diatur dengan sekrup A dan B; gelembung nivo dari posisi 2 ke posisi 3 diatur dengan sekrup C, dan dicek dalam posisi teropong yang Baling berlawanan. Dalam sembarang posisi teropong, kedudukan nivo kotak, tetap di tengah seperti ditunjukkan pada gambar iv.


















8. Dengan cara yang sama, seperti hainya mengatur nivo kotak, atur nivo tabung sedemikian rupa senhingga posisinya tepat di tengah-tengah.

Dengan selesainya tahap 8, teodolit sudah leveling, artinya sumbu I telah vertikal tetapi kondisi ini belum siap digunakan. Selain sumbu I vertikal, sumbu I harus tepat di tengah-tengah titik pengamatan (patok berpaku). Dengan demikian proses setup levelling dan sentering ini menjadi tidak sederhana, perlu latihan yang intensif.

Secara rinci tahapan sentering optis sebagai berikut:
1. Pasang patok di tempat yang aman, beri tanda silang atau titik di bagian tengahnya, bisa ditancapkan paku seng;
2. Siapkan statif, buku ketiga klemnya. Tarik kaki statif sedemikian hingga panjangnya sesuai dengan pengukur, kurang lebih setinggi dagu. Lalu, putar kecangkang secukupnya klem statif dan dirikan statif;
3. Pasang teodolit pada statif dan putar secukupnya sekrup penghubung statif teodolit;
4. Putar sekrup ABC (26) sehingga berposisi “normal” atau tengah-tengah. Tidak ada kepastian mana yang skrup A, B, atau C dari ketiga sekrup tersebut. Pilihannya relative dan terserah pengamat;
5. Angkat statif dan dirikan diats patok yang telah ditancapkan di tanah, perkirakan kaki statif membentuk segitiga sama kaki dan tinggi teodolit sesuai dengan mata pengukur;
6. Amati patok dengan optical plument (1) sedemikian rupa sehingga benang silang optical plumment mendekati tanda dengan patok. Bersamaan dengan itu, perkirakan dengan mata posisi bagian bawah teodolit mendatar;
7. Tancapkan ketiga kaki dengan menginjak statif bagian bawah;
8. Tengahkan / impitkan kembali tanda tengah mikroskop dan tanda tengah patok dengan memutar skrup ABC;
9. Amati nuvo kotanya (24), tengahkan gelembungnya dengan menggunakan sekrup kaki-kaki statif yang paling “efektif” secara bergantian dinaikanturunkan secara seimbang. Leveling pendekatan dilakukan dengan bantuan sekrup kaki statif dalam tahapan mengetengahkan gelembung nivo kotak. Oleh karena itu, perlu dipilih sekrup mana yang dikendorkan untuk menaikan atau menurunkan kaki statif. Agar egektif pergeserannya, pilihlah sekrup yang sejajar dengan gelembung nivo-tengah nivo;
10. Amati nivo tabung, tengahkan gelembungnya dengan menggunakan sekrup ABC dengan metode “penyikuan” kemudian putar pada sembarang posisi, lihat cara leveling;
11. Amati apakah tanda tengah optical plummet (1) apakah masih berhimpit dengan tanda tengah patok ? jika ya, maka teodolit tiap digunakan. Jika belum, impitkan lagi dengan dengan cara membuka sekrup statif-teodolit lalu geser teodolit sambil diamati melaui optical plummet tadi.
12. Amati nivo tabungnya, jika bergeser tengahkan dengan cara seperti pada tahap 10.
Secara rinci tahapan sentering unting-unting sebagai berikut:
1. Tahap 1 sampai dengan 5 sama dengan sentering optis.
2. Tetapkan unting-unting yang bebasa bergantung ke tengah-tengah patok (Gb 38) denagn cara menggeser-geser kaki statif.
3. Amati nivo tabung, tengahkan sekrup ABC dengan prinsip “siku-siku”, kemudian putar pada smbarang posisi.
4. Jika nuvo masih berada di tengah-tengah pada sembarang posisi, teodolit telah sentering.

Elliminasi paralaks
Tahapan eliminasi paralaks : agar terhindar dari paralaks ini, benang silang atau stadia hendaknya difokusnya secara hati-hati dengan eyepiece [19]; yang terletak dekat lensa okuler; sehingga benang silang itu jelas dan tajam. Untuk membantu melakukannya bisa dengan mengarahkan teleskop ke arah langit atau ke permukaan cerah yang seragam. Putar skrup eyepiece sehingga benang silang tajam-hitam, ini berarti skala dioptrik lensa telah diset tepat, sesuai dengan mata pengamat. Sekali terpenuhi, kondisi akan knstan untuk semua bidikan.
Untuk mengecek paralaks, pengamat menggerakkan kepala sedikit dari beberapa sudut pandang. Jika ada gerakan antara target dan benang silang, lengan focusing lensa-dalam [16] digunakan untuk mengoreksinya. Jika gagal, teleskop diarahkan lagi ke langit dan pemfokusan eyepiece dicek lagi. Umumnya, dengan hanya sedikit gerakan lengan focusing, paralaks sudah bisa dikoreksi.

E. Tugas
1. Lakukan langkah kegiatan di atas pada beberapa tempat dengan kondisi medan yang berbeda (pada 3 (tiga) tempat yang berbeda)!
2. Buatkan laporan kegiatan praktikum yang berbeda : Acara Praktikum, Waktu dan tempat pelaksanaan, Alat, Dasar teori, Tahap-Tahap kegiatan dan hasil kegiatan, Jawaban pendalamana materi.







ACARA III
(Pertemuan IIa: 90 menit)
THEODOLITE: PEMBACAAN PIRINGAN
Hari/Tanggal:...........................
Lokasi:.....................

A. Tujuan Instruksional Khusus
1. Mahasiswa mampu membidik target dengan akurasi dan presisi tinggi; mampu membedakan posisi biasa dan luar biasa;
2. Mahasiswa mampu melakukan pembacaan-pembacaan piringan horizontal dan vertikal secara tepat dan cepat.

B. Alat dan Perlengkapan
1. Teodolit
2. Statif
3. Unting-unting
4. Patok dan paku payung
5. Payung
6. Alat tulis

C. Dasar Teori
1. Pembacaan horizontal adalah pembacaan angka pada piringan horizontal, sedangkan pembacaan vertikal adalah pembacaan angka pada piringan vertikal, selain teodolit eletronik (total station), sistem pembacaan lingkaran horizontal maupun vertikal pada alat ukur teodolit dapat dibagi dalam 4 (empat) macam, yaitu :
a. Garis lurus
b. Garis lurus dan skala
c. Nonius
d. Mikrometer
Sistem pembacaan (a) sampai dengan (c) untuk teodolit dengan ketelitian rendah, sedangkan sistem pembacaan (d) untuk teodolit dengan ketelitian tinggi.
2. Sistem pembacaan pada alat ukur teodolit :
a. Garis Lurus. Lingkaran pembacaan hanya ada garis-garis pembagian derajat dan pembagian terkecil dalam satu derajat dibagi menjadi enam kolom. Garis pembacaan dinamakan garis indeks yang ada di depan lensa mikroskop pembacaan. Angka yang menunjukkan banyaknya menit diperkirakan.
b. Nonius. Nonius adalah skala sebagai alat bantu pembacaan pada piringan vertikal maupun horizontal agar diperoleh perkiraan pembacaa yang relative lebih teliti. Garis skala nol nonius berlaku sebagai garis indeks. Besarnya kesatuan nonius perlu dicari untuk mengetahui besar atau kolom dan skala nonius. Contoh mencari kesatuan nonius : missal besar harga kolom lingkar R = 10’ ; banyaknya kolom nonius (n) = 30 ; maka : kesatuan nonius = R/n = 10’/30 = 30”. Banyaknya menit dan detik dicari dengan melihat garis nonius mana yang berimpit dengan garis skala lingkaran.
c. Mikrometer adalah prisma yang dipasang di depan lensa mikroskop pembacaan. Prisma ini berfungsi memanipulasi jalannya sinar piringan skala, sedangkan sistem pembacaannya, sebenarnya adalah sistem nonius. Garis indeks pada sistem pembacaan micrometer berupa dua buah garis sejajar yang pembacaannya baru bisa dilakukan apabila salah satu garis skala lingkaran telah masuk di tengah antara dua garis indeks. Cara memasukkan garis skala tersebut ke garis indeks menggunakan micrometer.
d. Pembacaan ganda atau coincident sistem pembacaan ganda adalah sistem dimana dua buah pembacaan terdapat dalam piringan yang sama dengan menggunakan manipulasi sinar yang masuk pada piranti alat pembacaan alat teodolit. Pada sistem pembacaan ganda yang dilengkapi dengan micrometer, skala atas dan bawah, atau kiri dan kanan, harus diimpitkan terlebih dahulu dengan menggunakan sekrup micrometer tersebut. Apabila tidak dilengkapi dengan micrometer, maka sebagai indeks untuk pembacaan adalah angka yang saling berhadapan dan selisih 180o

D. Langkah Kegiatan :
1. Siapkan alat ukur dan perlengkapannya. Catat nomor seri alat ukur teodlit yang digunakan.
2. Tentukan/pilih satu titik dan dirikan alat ukur teodolit di atas titik tersebut
3. Teodolit di set up
4. Tentukan 3 (missal A, B dan C) titik di sembarang tempat yang akan dijadikan target pengamatan. Tandai titik-titik tersebut dengan tanda silang atau paku payung atau spidol. Titik A (referensi) dipilih titik yang paling kiri, titik C titik yang paling kanan.
5. Bidik target A (langkah 4) dalam posisi teropong BIASA (piringan vertikal disebelah kiri pengamat), kemudian baca dan catat bacaan horisontalnya, serta catat bacaan vertikalnya (gunakan formulir)
6. Lakukan kegiatan langkah 5 di atas untuk titik B dan C
7. Putar teropong menjadi LUAR BIASA (piringan vertikal di sebelah kiri pengamat)
8. Bidik target C, kemudian baca, catat bacaan horisontalnya, serta catat pula bacaan vertikalnya. Lanjutkan untuk target B dan terakhir di target A (urutan dibalik)
E. Tugas
1. Lakukan langkah kegiatan diatas pada beberapa tempat dengan kondisi medan yang berbeda (pada 3 (tiga) tempat yang berbeda !
2. Buatkan laporan kegiatan praktikum yang berbeda : cara praktikum, waktu dan tempat pelaksanaan, alat, Dasar Teori, Tahap-tahap Kegiatan Dan Hasil Kegiatan, Jawab perndalaman materi.




ACARA IV
(Pertemuan IIb: 90 menit)
THEODOLITE: GARIS BIDIK TEGAK LURUS SUMBU II
(KESALAHAN INDEKS VERTIKAL)
Hari/Tanggal:...........................
Lokasi:.....................

A. Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa mampu mendeteksi garis bidik tidak tegak lurus sumbu II, mampu menghitung penyimpangannya, dan mampu mendemonstrasikan prosedur eliminasi kesalahan kolimasi horizontal ini.

B. Alat dan Perlengkapan
1. Teodolite
2. Statif
3. Unting-unting
4. Patok dan Paku paying
5. Payung
6. Alat tulis

C. Dasar teori
1. Kesalahan garis bidik yang tegak lurus terhadap sumbu II disebut kesalahan kolimasi. Kesalahan ini termasuk dalam kategori keslahan sistematis; untuk menghilangkannya dapat dilakukan dengan pengaturan teodolite.
2. Kesalahan kolimasi dihitung dengan :
2β = 180˚- ( B – LB )
β = [ 180˚ - ( B – LB )] /2
β = kesalahan kolimasi
B dan LB : masing-masing adalah bacaan horizontal biasa dan luar biasa

D. Langkah kegiatan
1. Siapkan alat ukur dan perlengkapanya. Catat nomor seri alat ukur teodolite yang digunakan.
2. Tentukan/ pilih satu titik dan dirikan alat ukur teodolite diatas titik tersebut.
3. Set up teodolite
4. Tentukan 3 (missal A, B, dan C) titik di sembarang tempat yang akan dijadikan target pengamatan. Tandai titik-titik tersebut dengan tanda silang atau paku payung atau spidol. Titik A (referensi) dipilih titik yang paling kiri, titik C titik yang paling kanan.
5. Bidik target A (langkah 4) dalam posisi teropong BIASA (piringan vertical di sebelah kiri pengamat), kemudian baca dan catat bacaan horizontalnya, serta catat bacaan vertikalnya (gunakan formulir).
6. Lakukan kegiatan langkah 5 diatas untuk titik B, dan C.
7. Putar teropong menjadi LUAR BIASA (piringan vertikal disebelah kanan pengamat).
8. Bidik target yang paling “kiri” (yang dibuat dilangkah 4) dalam posisi BIASA (piringan vertikal disebelah kiri pengamat), kemudian baca dan catat besanya bacaan horizontal, serta bacaan vertical.

E. Tugas
1. Hitung selisih antara pembacaan horizontal dari titik /target yang sama masing-masing dalam posisi BIASA dan LUAR BIASA!
2. Hitung kesalahan kolimasi horizontal titik A, B, dan C. Berapakah rata-ratanya?
3. Buat laporan kegiatan praktikum, ini berisi : acara praktikum, waktu dan tempat pelaksanaan, alat, tujuan instruksional khusus, dasar teori, tahap-tahap kegiatan dan hasil kegiatan, jawaban pendalaman materi.






ACARA V
(Pertemuan IIc: 60 menit)
TEODOLIT: KESALAHAN INDEKS VERTIKAL MINIMAL
Hari:...........................
Tanggal:.....................

A. Tujuan Instruksional khusus
Mahasiswa mampu mendeteksi kesalahan indeks vertikal teodolit, mampu menghitung pnyimpangannya, dan mampu mendemonstrasikan prosedur eliminasi kesalahan indeks vertikal ini.

B. Alat dan Perlengkapan
1. Teodolite
2. Statif
3. Unting-unting
4. Patok dan Paku paying
5. Payung
6. Alat Tulis

C. Dasar Teori
1. Kesalahan indeks vertical terjadi apabila saat garis bidik teropong betul-betul mendatar, pembacaan lingkaran vertical tdak menunjukkan 90/270˚ (posisi B dan LB).
2. Besarnya kesalahan indeks vertical, P=180˚-{1/2 (B+LB)}

D. Langkah Kegiatan
1. Set Up teodolite diatas suatu titik yang anda pilih hingga alat tersebut memenuhi persyaratan dalam pengukuran.
2. Buat 3 titik target ( A, B, dan C )
3. Bidikan teropong pada posisi BIASA pada suatu sbuah titik A, baca lngkaran vertical; gunakan formulir.
4. Lakukan langkah 3 untuk titik B, dan C.
5. Buat teropong dalam posisi LUAR BIASA bidikan kembali ke titik C, B, dan A, baca lingkaran vertikalnya.
6. Hitung harga P (kesalahan indeks) untuk tiap target; hitung pula rata-ratanya.

E. Tugas
Buat laporan kegiatan praktikum, ini berisi : acara praktikum, waktu dan tempat pelaksanaan, alat, tujuan instruksional khusus, dasar teori, tahap-tahap kegiatan dan hasil kegiatan, jawaban pendalaman materi.



ACARA VI
(Pertemuan IIIa: 90 menit)
TEODOLIT: PEMBACAAN RAMBU UKUR
Hari:...........................
Tanggal:.....................

A. Tujuan Instruksional khusus
Mahasiswa mampu mendirikan rambu ukur dengan benar, membaca rambu ukur dengan tepat dan cepat melalui benang silang yang ada pada teodolit, mendeteksi kesalahan bacaan rambu ukur.

B. Alat dan Perlengkapan
1. Teodolit
2. Statif
3. Rambu
4. Patok dan Paku payung
5. Payung
6. Alat tulis

C. Dasar Teori
1. Rambu ukur adalah alat bantu dalam pengukuran jarak optis maupun beda tinggi yang bentuk fisiknya berupa mistar dengan panjang (pada umumnya) tiga meter atau enam meter, berskala di dua sisi—sisi kanan dan sisi kiri dan bercat hitam putih atau merah putih. Rambu terbuat dari bahan yang tahan terhadap kondisi lapangan;
2. Kedudukan rambu dalam pengukuran harus benar-benar vertikal diatas titik yang diukur sebagai target pengukuran. Dalam pengukuran waterpas teliti, rambu ukur pada umumnya dilengkapi dengan nivo kotak pada bagian belakangnya - berguna untuk mendeteksi posisi rambu sedemikian hingga benar-benar vertikal serta - dan dilengkapi dengan statif rambu
3. Pembacaan rambu terdiri dari empat unit bacaan: meter, decimeter, centimeter dan milimeter (dalam waterpas teliti unit bacaan sampai dengan micro meter). bacaan meter sampai dengan centimeter ditunjukkan pada skalh rambu sedangkan tingkat milimeternya didasarkan oleh perkiraan (estimasi) pengukuran terhadap posisi benang silang (ba. bt dan bb) pada rambu. silang

D. Langkah Kegiatan
1. Persiapkan peralalatan yang dibutuhkan Berta periksa kelengkapannya;
2. Set up teodolit di atas suatu titik yang anda pilih hingga alat tersebut memenuhi persyaratan untuk pengukuran;
3. Bidikan teropong pada posisi BIASA pada suatu sebuah titik A, catat lingkaran vertikalnya; gambarkan posisi rambu dan posisi benang-benangnya (ba, bt, dan bb);
4. Buat teodolit dalam posisi LUAR BIASA, bidikan kembali ke titik A serta catat lingkaran vertikalnya; gambarkan posisi rambu dan posisi benang¬benangnya (ba, bt, clan bb);
5. Lakukan langkah 3, dan 4 pada titik B , dan C.


E. Tugas
Buat laporan kegiatan praktikum, ini berisi : acara praktikum, waktu dan tempat pelaksanaan, alat, tujuan instruksional khusus, dasar teori, tahap-tahap kegiatan dan hasil kegiatan, jawaban pendalaman materi. Catatan : gambarkan skema hasil pengamatan/pembidikan rambu yang saudara lakukan dan tuliskan angka bacaan yang saudara lakukan !







ACARA VII
(Pertemuan IIIb: 90 menit)
PENGUKURAN JARAK LANGSUNG
Hari:...........................
Tanggal:.....................
A. Tujuan Instruksional khusus
Mahasiswa mampu mengukur jarak langsung - dengan menerapkan prinsip-prinsip pengukuran menggunakan peralatan sederhana berupa pita ukur dan alai bantu lain, seperti jalon dan unting-unting, pada medan datar dan miring.

B. Alat dan Perlengkapan
1. Meteran
2. Jalon (3 buah)
3. Alat tulis

C. Dasar Teori
1. Jarak antara dua titik dipermukaan bumf dalam ukur tanah didefinisikan sebagai jarak dalarn bidan horisontal yang merupakan jarak terpendek antara dua titik tersebut.
2. Pengukuran jarak langsung dilakukan dengan dua tahap utama pekerjaan, (1) pelurusan arah antara dua titik yang akan diukur, dan (2) pelaksanaan pengukuran, itu sendiri.










3. Pelurusan arah antara dua titik dilakukan apabila jarak yang akan diukur dapat dilakukan dengan sekali membentangkan pita ukur(panjang pita ukur berkisar antara 20 – 50 meter), dan atau permukaan tanahnya tidak mendatar sedemikian rupa sehingga jarak tersebut dipenggal – penggal; setiap penggal dapat dilakukan pengukuran jarak dengan sekali bentangan pita ukur secara mendatar.
4. Pengukuran jarak dilakukan dengan menepatkan skala 0 pita ukur pada ujung awal dan menarik pita ukur secara sencang dan mendatar hingga ujung akhir jarak( penggalan jarak), serta membacanya skala pada pita ukur pada ujung akhir jarak (penggalan jarak)
5. Ketelitian pengukuran jarak dihitung sebagai selisih pengukuran pergi dan pulang dibagi jarak rerata dari pengukuran pergi dan pulang.

D. Langkah Kegiatan
1. Persiapkan peralatan yang dibutuhkan serta periksa kelengkapannya;
2. Pilih dua titik sembaran dengar ketentuan kira-kira jarak antara keduanya -1 100 meter, kemudian tandai titik-titik tersebut dengan patok atau paku payung
3. Dua orang masing – masing berdiri di kedua titik tersebut dengan jalon yang didirikan secara vertical diatas titik yang besangkutan
4. seorang dengan memegang jalon dengan posisi vertikal, berdiri diantara kedua titik diatas dan dengan diarahkan oleh pemegang rambu dikedua ujung (atau salah satu ujung), menempatkan jalon yang dibawa tersebut sedemikian sehingga ketiga jalon tampak dari ujung-ujung pengukuran sebagai satu jalon serta dalam posisi yang mempu diukur dengan satu bentangan pita ukur yang digunakan
5. Kegiatan pelurusan sebagaimana No 4 dilakukan terhadap bentangan-bentangan lainnya
6. Lakukan pengukuaran langsung dengan menggunakan pita ukur dalam posisi horizontal sebagaimana ditunjukkan pada skema pengukuran (baik dalam kondisi permukaan tanah yang datar maupun miring).
7. Lakukan kegiatan pengukuran jarak langsung diatas kondisi permukaan tanah yang bervariasi (datar, miring, dan antara dua gedung yang lebih dari satu bentangan pita ukur )!

E. Tugas
Buat laporan kegiatan praktikum, ini berisi : acara praktikum, waktu dan tempat pelaksanaan, alat, tujuan instrukional khusus, dasr teoti, tahap – tahap kegiatan dan hasil kegiatan, jawaban pendalaman materi.





ACARA VIII
(Pertemuan IV: 120 menit)
PENGUKURAN JARAK OPTIS
Hari:...........................
Tanggal:.....................

A. Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa mampu mengukur jarak optis secara akurat dan cepat menggunakan teodolite dan kelengkapannya, pada medan datar dan miring.

B. Alat dan Bahan:
1. Teodolite
2. Statif
3. Rambu
4. Patok dan paku payung
5. Payung
6. Alat tulis

C. Dasar Teori;










Pengukuran tacimetri menhasilkan posisi detail X, Y, dan Z secara optis. Data yang diperoleh dari pengukuran adalah bacaan benang rambu, bacaan vertical, bacaan horizontal, dan ketinggian alat; formulanya sebagai berikut,
Dm = 100 (ba-bb) cos h
D = Dm cos h
D = 100 (ba-bb) cos2 h
Karena, z + h = 90˚
D : 100 (ba-bb) sin2 z
Keterangan:
Dm : Jarak miring
D : Jarak datar
h : helling
z : zenith
ba : bacaan benang atas
bb : bacaan benang bawah
bt : bacaan benang tengah
Ti : tinggi instrument

D. Langkah Kegiatan
1. Persiapkan peralatan yang dibutuhkan serta periksa kelengkapannya;
2. Pilih dua titik sembarang di atas permukaan tanah, tandai titik tersebut dengan paku payung;
3. Dirikan teodolite, set up;
4. Pilih satu target A sembarang ynag berjarak kira-kira 30m dari teodolite berdiri, dan dirikan rambu ukur secara vertical pada tempat tersebut;
5. Bidik posisi BIASA rambu ukur tersebut baca ba, bt dan bb pada rambu; baca vertical serta catat hasil bacaan tersebut pada formulir. Ubah theodolite pada posisi LUAR BIASA, bidik kembali target A, catat juga ba, bt dan bb pada rambu, dan catat bacaan vertikalnya.
6. Lakukan langkah 4 dan 5 di atas untuk kedudukan rambu ukur pada 2 tempat (target B dan C) yang berbeda;
7. Hitung jarak miring dan jarak datar dari stasiun ke titik A, B dan C.

E. Tugas
Buat laporan kegiatan praktikum, ini berisi: acara praktikum, waktu dan tempat pelaksanaan, alat, tujuaninstruksional khusus, dasar teori, tahap-tahap kegiatan dan hasil kegiatan, jawaban pendalaman materi.




ACARA IX
(Pertemuan V dan VI: 120 menit)
PENGUKURAN SUDUT: SERI RANGKAP
Hari/Tanggal:...........................
Lokasi:..................

A. Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa mampu mengukur sudut secara akurat dan cepat dengan menggunakan metode seri rangkap.

B. Alat dan Bahan:
1. Theodolite
2. Statif
3. Pstok dan paku paying
4. Paying
5. Alat tulis

C. Dasar Teori;


1. Theodolite adalah instrument yang digunakan untuk membaca arah pada suatu bidang horizontal dan kemiringan (inklinasi) pada suatu bidang vertical.
2. Perbedaan-perbedaan arah beberapa titik yang diamati terbaca dalam skala horizontal. Sudut-sudut yang terbentuk dari beberapa titik tersebut dihitung dari bacaan arah-arah ini. Penting untuk dipahami, sudut yang terbentuk pada bidang horisontalseperti yang terlihat pada gambar 48 berikut ini.
3. Jika arah ke titik P dan Q di baca dari titik R, sudut horisontal yang terbentuk dirumuskan P’RQ’, sudut yang melalui R bukanlah sudut PRQ. Konsep ini sangat mendasar untuk memahami cara kerja theodolite. Jika sumbu vertical theodolite benar-benar vertical, semua sudut yang dihitung adalah sudut-sudut pada bidang horizontal melalui sumbu horizontal instrument.
4. Pengukuran sudut horizontal antara dua buah target merupakanpengukuran paling sederhana dalam tranverse. Karena hany ada dua target, pengukuran relaatif singkat, dengan demikian kesalahan residual akibat kevertikalan sumbu dan naik turunnya statif (twisting) secara praktis terhindarkan. Untuk pengukuran yang teliti, umumnya pengamatan dilakukan dalam dua posisi, biasa dan luar biasa; dan di hitung rata-rata keduanya. Setelah seting bacaan nol pada target R.O (reference object), atau pada bearing yang telah ditentukan, urutan-urutan pengukurannya sebagai berikut:
1) Posisi biasa. Putar searah jarum jam. Amati target – kiri (R.O).
2) Posisi biasa. Putar searah jarum jam. Amati target – kanan.
3) Posisi luar biasa. Putar berlawanan arah jarum jam. Amati target – kanan.
4) Posisi luar biasa. Putar berlawanan arah jarum jam. Amati target – kiri (R.O).
5. Pengamatan ini lengkap satu set atau umumnya disebut satu seri rangkap. Pada metodeini diperleh empat bacaan horizontal dan dua sudut. Sudut yang digunakan untuk hitungan adalah rata-ratanya. Jadi, diamati n seri rangkap diperoleh 4n bacaan horizontal dan 2n sudut baikpada posisi biasa maupun luar biasa.
6. Jika diinginkan pengamatan yang lebih akurat, beberapa seri tambahan dapat dilakukan. Seri kedua dapat dilakukan dengan mengubah bidikan R.O menjadi 90˚. Jika empat seri rangkap, pengubahan bidikan R.O-nya menjadi 0˚, 45˚,

D. Langkah Kegiatan
1. Persiapkan peralatan yang dibutuhkan serta periksa kelangakapannya.
2. Pilih satu titik stasiun sembarang diatas permukaan tanah dan tandai titik tersebut patok dan atau paku payung. Set up theodolit.
3. Tetapkan dua target ( A, dan B );
4. Pada posisi BIASA, bidik target A sedemikian hingga bacaan horizontal diatur menjadinol ( 000’0” ), pengaturan digunakan: mikrometer, klem dan penggerak halus horizontal, klem dan penggerak halus limbus;
5. Setelah tepat klem limbus dikunci dan klem horizontal dibuka, putar kanan, teropong bidikan ketitik B. Catat bacaan horizontalnya;
6. Jadikan theodolit pada posisi LUAR BIASA, bidik target B, catat bacaan horizontalnya;
7. Putar kiri, bidik target A, catat bacaan horizontalnya : (satu seri selesai)
8. Untuk seri berikutnya, buat posisi BIASA, bidik target A sedemikian hingga bacaan horizontal diatur menjadi nol (90°0’0”), pengaturan digunakan : micrometer, klem dan penggerak halus limbus;
9. Setelah tepat klem limbus dikunci dan klem horizontal dibuka, putar kanan, teropong dibidikan ketitik B. Catat bacaan horizontalnya;
10. Jadikan teodolite pada posisi LUAR BIASA, bidik target B, catat bacaan horizontalnya;
11. Putar kiri, bidik target A, catat bacaan horizontalnya; (dua seri selesai)



E. Tugas
Buat laporan kegiatan praktikum, ini berisi : acara praktikum, waktu dan tempat pelaksanaan, alat, tujuan instruksional khusus, dasar teori, tahap-tahap kegiatan dan hasil kegiatan, jawaban pendalaman materi.
























ACARA X
(Pertemuan VIIa: 90 menit)
WATERPASS: PENGENALAN, PENGATURAN SUMBU I
Hari/Tanggal:...........................
Lokasi:..................

A. Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa mampu mengenal secara lansung, bagian-bagian waterpass, cara pengoperasiannya dan fungsinya, mampu mensetup waterpass untuk siap digunakan.

B. Alat dan Bahan
1. Waterpass
2. Statif
3. Payung
4. Alat Tullis

C. Dasar Teori
1. Waterpassing (penyipatdatar) merupakan metoda penentuan beda tinggi antara titik-titik diatas permukaan bumi ;
2. Tinggi suatu obyek diatas permukaan bumi ditentukan dari suatu bidang referensi, yaitu bidang yang dianggap ketinggiannya nol; misalnya digunakan bidang referensi tersebut dalam geodesi disebut geoid, yaitu bidang equipotensial yang dianggap berimpit dengan permukaan air laut rata-rata (mean sea level). Bidang equipotensial juga disebut bidang nivo, yang selalu tegak lurus dengan arah gaya berat disembarang permukaan bumi. Ada banyak bidang nivo dipermukaan bumi; satu dengan yang lain saling melingkupi. Pengukuran beda tinggi antara 2 titik dipermukaan bumi, pada prinsipnya, pengukuran jarak vertikal antara bidang-bidang nivo yang melalui titik satu dan lainnya. Untuk wilayah yang terbatas luasannya, maka bidang-bidang nivo tersebut dianggap datar, pengukuran ini dapat dilakukan dengan waterpassing;
3. Waterpass (sipat datar)-dalam arti alat ukur-adalah alat ukur yang digunakan untuk penentuan beda tinggi antara titik-titik diatas permukaan bumi.
4. Bagian utama konstruksi alat ukur waterpass terdiri dari : teropong yang dilengkapi dengan benang silang, piringan horizontal (pada alat-alat baru), nivo kotak dan nivo tabung.
5. Untuk mematikan gerakan pada sumbu I, waterpass dilengkapi dengan klem sumbu I (klem horizontal), dan untuk putaran yang halus dilengkapi sekrup penggerak halus.
6. Macam-macam waterpass : (1) tipe semua tetap, dengan dilengkapi sekrup ungkit maupun ungkit, (2) tipe otomatis dan (3) tipe sinar laser.

D. Langkah Kegiatan
1. Persiapkan peralatan yang dibutuhkan serta periksa kelengkapannya. Catat merk, tipe dan nomor seri alat ukur yang dipergunakan !
2. Pilih tempat yang aman untuk mendirikan alat ukur waterpass (tanah tidak rapuh; terhindar dari gangguan lalu lintas, dsb)
3. Dirikan Statif dengan aman dan sesuai dengan keadaan setempat maupun juru ukur.
4. Pasang alat ukur waterpass diatas statif dan eratkan dengan sekrup pengunci hingga aman.
5. Set up waterpass dengan melevelkan, cara ini sama dengan leveling teodolit.
6. Lindungi alat ukur waterpass dari panas langsung maupun air (hujan).

E. Tugas
1. Sebutkan bagian-bagian alat ukur dan fungsinya! sertai dengan gambar!
2. Operasikan bagian-bagian alat ukur waterpass fungsinya !
3. Buat laporan kegiatan praktikum ini, yang berisi : acara praktikum, waktu dan tempat pelaksanaan, alat, tujuan instruksional khusus, dasar teori, tahap-tahap kegiatan dan hasil kegiatan, jawaban pendalaman materi.
























ACARA XI
(Pertemuan VIIb: 90 menit)
WATERPASS: GARIS BIDIK SEJAJAR GARIS ARAH NIVO
Hari/Tanggal:...........................
Lokasi:..................

A. Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa mampu mendeteksi, memperoleh data ukuran untuk melihat kondisi kesejajaran garis bidik dengan garis arah nivo.

B. Alat dan Bahan
1. Waterpass
2. Statif
3. Payung
4. Alat tulis

C. Dasar Teori
Waterpass memerlukan garis bidik yang mendatar, untuk itu kita harus memastikan garis bidik telah benar-benar dalam posisi mendatar. Kondisi ini dapat diketahui dengan bantuan nivo tabung. Andaikan nivo tabung telah terkoreksi dan dalam posisi seimbang maka garis arah nivo mendatar. Apabila garis bidik dapat dibuat sejajar dengan garis arah nivo, maka pada saat nivo seimbang (garis arahnya mendatar) garis bidik akan mendatar.







D. Langkah Kegiatan
1. Persiapkan peralatan yang dibutuhkan serta periksa kelengkapannya. Catat nomor seri alat ukur yang dipergunakan !
2. Ukur tiga buah penggal garis lapangan yang sama panjang (misal 30 m) dan berada dalam garis lurus, selanjutnya tiap titik diberi notasi A, B, C dan D;
3. Ukur beda tinggi antara A dan C, alat berdiri di B. catat bacaan untuk rambu A (ba, btA1 dan bb), dan rambu C (ba, btC1 dan bb). Karena jarak AB=BC, maka (btC1-btA1)=(btC0-btA0); hitung beda tinggi (A-C)1=bt0-btA1
4. Pindahkan instrument ke titik D. catat bacaan untuk rambu A (ba, btA2 dan bb) dan rambu C (ba, btC2 dan bb), hitung beda tinggi (A-C)2=btC2-btA2.
5. Jika (btC1-btA1) tidak sama dengan (btC2-btA2) berarti garis bidik tidak sejajar garis arah nivo;
6. Langkah koreksi dapat dilaksanakan sebagai berikut :
a. Hitung harga koreksi (K) dengan rumus = 3/2 {(btc2 – btA2) – (btC1 – btA1)}
b. Untuk waterpass tanpa sekrup ungkit, arahkan garis bidik pada bacaan ((btA2) – K), pada rambu A dengan memutar skrup koreksi diafragma atas dan bawah dengan pen koreksi (untuk pelaksanaan kegiatan ini hanya didemonsttrasikan oleh instruktur masing-masing).
c. Setelah dikoreksi hasilnya dicatatat : untuk rambu A (ba, btA3 dan bb) dan rambu C (ba, btC3 dan bb)
7. Pengecekan : jika (btC1-btA1)=(btC3-btA3) berarti garis bidik sejajar garis arah nivo.

E. Tugas
Buat laporan kegiatan praktikum ini, yang berisi : acara praktikum, waktu dan tempat pelaksanaan, alat, tujuan instruksional khusus, dasar teori, tahap-tahap kegiatan dan hasil kegiatan, jawaban pendalaman materi.












ACARA XII
(Pertemuan VIII, IX, X: 3 X 120 menit)
JARING KONTROL: POLIGON TERTUTUP
Hari/Tanggal:...........................
Lokasi:..................

A. Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa mampu memasang titik kontrol, mampu mengadakan pengukuran jarak, mampu mengadakan pengukuran sudut, mampu mengadakan asimut awal, mampu menghimpun dan mengolah data hasil ukuran, dan mengetahui cara mendeteksi kesalahan-kesalahan yang mungkin timbul.

B. Alat dan Bahan
1. Teodolit
2. Statif
3. Unting-unting
4. Meteran
5. Kompas (bila perlu)
6. Jalon (bila perlu)
7. Patok dan atau paku payung
8. Payung
9. Alat tulis

C. Dasar Teori
1. Poligon adalah rangkaian titik-titik secara berurutan, sebagai kerangka dasar pemetaan. Untuk kepentingan kerangka dasar, titik-titik poligon tersebut harus diketahui atau ditentukan posisi atau koordinatnya.
2. Macam-macam pologon, antara lain:
a. Atas dasar titik ikat: (1) poligon terikat sempurna : poligon yang ujung-ujungnya terikat pada dua titik yang diketahi koordinatnya, (2) poligon terikat sepihak: poligon yang salah satu titik ujungnya terikat atau diketahui koordinatnya, (3) poligon bebas: poligon yang ujung-ujungnya tidak terikat.
b. Atas dasar bentuk: (1) Poligon Terbuka: poligon yang ujungnya tidak saling bertemu satu dengan yang lain, (2) poligon tertutup: poligon yang ujungnya saling bertemu (titik awal dan titik ahir menjadi satu) dan membentuk suatu loop atau kring, (3) poligon cabang: poligon yang merupakan cabang dari poligon yang lain.
c. Atas dasar hirarki dalam pemetaan : (1) poligon yang utama : poligon yang koordinat titik-titiknya diperoleh langsung dari penentuan koordinat titik local atau diikatkan langsung melaui pengukuran dari titik kontrol terdekat. (2) poligon cabang: poligon yang koordinat titik-titiknya diikatkan dari poligon utama.
3. Contoh poligon tertutup dengan jumlah sudut lima titik, dapat dilihat pada gambar dibawah ini.



































Pada setiap pekerjaan poligon tertutup, penting diketahui arah pengukuran poligon. Pada gambar, arah pengukuran poligon berlawanan dengan jarum jam. Konsekuensinya, sudut kanan (β) yang terbentuk adalah sudut dalam. Berbeda dengan poligon pertama, pada gambar, arah pengukuran poligon searah jarum jam sehingga sudut kanan (β) yang terbentuk adalah sudut luar. Perlu diketahui bahwa sudut kanan adalah sudut yang terbentuk dari selisih arah bacaan muka dikurangi arah bacaan belakang (back sight atau reference object). Bacaan back sight ini dapat diset nol, sembarang atau sebesar asimut yang diketahui.
Ketika teodolit dititik 2, bacaan belakangnya adalah hasil bidikan ketitik 1 sedangkan bacaan mukanya adalah hasil bidikan ketitik 3. Ketika teodolit dititik 3, bacaan belakangnya adalah ketitik 2 sedangkan bacaan belakangnya adalah hasil bidikan ketitik 4. Ketika teodolit dititik 4, bacaan belakangnya adalah hasil bidikan ketitik 3 sedangkan bacaan mukanya adalah hasil bidikan ketitik 5. Ketika teodolit dititk 5, bacaan belakngnya adalah hasil bidikan ketitik4 sedangkan bacaan mukanya adalah hasil bidikan ketitik 1. Terakhir, ketika teodolit dititik 1, bacaan belakangnya adalah hasil bidikan ketitik 5 sedangkan bacaan mukanya adalah hasil bidikan ketitik 2. Cara ini berlaku baik untuk posisi biasa maupum luar biasa.

Syarat penutup sudut
Secara geometris jumlah sudut
∑β=(n-2).180° ……………………………………………………………(1)
n adalah jumlah titik sudut poligon

Secara geometris, jumlah sudut luar
∑β=(n+2).180° ……………………………………………………………(2)
n adalah jumlah titik sudut poligon

Contoh 1
Poligon pada gambar 57, jumlah sudut dalam :
∑β=(5-2).180°=540°
Poligon pada gambar 58, jumlah sudut luar :
∑β=(5+2).180°=1260°

Dengan menggunakan syarat geometri sudut tersebut, hasil keseluruhan ukuran sudut (∑β”) dapat dihitung penyimpangannya. Penyimpangan atau kesalahan adalah selisih syarat penutup sudut dengan jumlah sudut ukuran (persamaan 3). Karena berbagai penyebab, hasil ukuran sudut tidaklah tepat menghasilkan angka seperti syarat sudut diatas tetapi biasanya hanya mendekati angka itu. Besarnya penyimpangan bergantung pada ketelitian alat yang digunakan.

Pada sudut dalam
fβ=(n-2).180°-∑β” ……….....……,…………………………..(3)
Pada sudut luar
fβ=(n+2).180°-∑β” ………….………………………………..(4)

fβ : Kesalah ukuran sudut poligon
∑β” : Jumlah Sudut kanan ukuran

Toleransi sudut. Penyimpangan hasil ukuran dinyatakan diterima ataukah tidak dengan cara membandingkannya terhadap toleransi. Jika penyimpangan lebih kecil atau sama dengan batas atas toleransi, ukuran sudut itu diterima namun jika penyimpangannya lebih besar dari batas atas toleransi, ukuran sudut itu ditolak. Hitungan toleransi ukuran sudut mengikuti hukum kompensasi yaitu total kesalahan (acak) yang terjadi adalah ketelitian alat dikalikan dengan akar jumlah kejadiannya.

Toleransi : lfβl ≤C√n ……………….……………………………(5)
C : Ketelitian alat, besarnya adalah separuh bacaan terkecil (least count) alat.
N : Jumlah titik poligon.
l..l : Tanda harga mutlak.

Toleransi kesalahan penutup jarak linier (fL), yaitu batas besarnya kesalahan yang masih dapat diterima perbandingan :


Dalam hal ini,
fx = ∑D Sin α ; fx adalah kesalah dari jumlah D Sin α
fy = ∑D Cos α ; fx adalah kesalah dari jumlah D Cos α
Pada setiap pekerjaan poligon tertutup, penting diketahui arah pengukuran poligon. Pada gambar, arah pengukuran poligon berlawanan dengan jarum jam. Konsekuensinya, sudut kanan (β) yang terbentuk adalah sudut dalam. Berbeda dengan poligon pertama, pada gambar, arah pengukuran poligon searah jarum jam sehingga sudut kanan (β) yang terbentuk adalah sudut luar. Perlu diketahui bahwa sudut kanan adalah sudut yang terbentuk dari selisih arah bacaan muka dikurangi arah bacaan belakang (back sight atau reference object). Bacaan back sight ini dapat diset nol, sembarang atau sebesar asimut yang diketahui.
Ketika teodolit dititik 2, bacaan belakangnya adalah hasil bidikan ketitik 1 sedangkan bacaan mukanya adalah hasil bidikan ketitik 3. Ketika teodolit dititik 3, bacaan belakangnya adalah ketitik 2 sedangkan bacaan belakangnya adalah hasil bidikan ketitik 4. Ketika teodolit dititik 4, bacaan belakangnya adalah hasil bidikan ketitik 3 sedangkan bacaan mukanya adalah hasil bidikan ketitik 5. Ketika teodolit dititk 5, bacaan belakngnya adalah hasil bidikan ketitik4 sedangkan bacaan mukanya adalah hasil bidikan ketitik 1. Terakhir, ketika teodolit dititik 1, bacaan belakangnya adalah hasil bidikan ketitik 5 sedangkan bacaan mukanya adalah hasil bidikan ketitik 2. Cara ini berlaku baik untuk posisi biasa maupum luar biasa.

Syarat penutup sudut
Secara geometris jumlah sudut
∑β=(n-2).180° ……………………………………………………………(1)
n adalah jumlah titik sudut poligon




Secara geometris, jumlah sudut luar
∑β=(n+2).180° ……………………………………………………………(2)
n adalah jumlah titik sudut poligon

Contoh 1
Poligon pada gambar 57, jumlah sudut dalam :
∑β=(5-2).180°=540°
Poligon pada gambar 58, jumlah sudut luar :
∑β=(5+2).180°=1260°

Dengan menggunakan syarat geometri sudut tersebut, hasil keseluruhan ukuran sudut (∑β”) dapat dihitung penyimpangannya. Penyimpangan atau kesalahan adalah selisih syarat penutup sudut dengan jumlah sudut ukuran (persamaan 3). Karena berbagai penyebab, hasil ukuran sudut tidaklah tepat menghasilkan angka seperti syarat sudut diatas tetapi biasanya hanya mendekati angka itu. Besarnya penyimpangan bergantung pada ketelitian alat yang digunakan.

Pada sudut dalam
fβ=(n-2).180°-∑β” …………………………………………………..(3)
Pada sudut luar
fβ=(n+2).180°-∑β” …………………………………………………..(4)

fβ : Kesalah ukuran sudut poligon
∑β” : Jumlah Sudut kanan ukuran

Toleransi sudut. Penyimpangan hasil ukuran dinyatakan diterima ataukah tidak dengan cara membandingkannya terhadap toleransi. Jika penyimpangan lebih kecil atau sama dengan batas atas toleransi, ukuran sudut itu diterima namun jika penyimpangannya lebih besar dari batas atas toleransi, ukuran sudut itu ditolak. Hitungan toleransi ukuran sudut mengikuti hukum kompensasi yaitu total kesalahan (acak) yang terjadi adalah ketelitian alat dikalikan dengan akar jumlah kejadiannya.

Toleransi : lfβl ≤C√n …………………………………………………(5)
C : Ketelitian alat, besarnya adalah separuh bacaan terkecil (least count) alat.
N : Jumlah titik poligon.
l..l : Tanda harga mutlak.

Toleransi kesalahan penutup jarak linier (fL), yaitu batas besarnya kesalahan yang masih dapat diterima perbandingan :


Dalam hal ini,
fx = ∑D Sin α ; fx adalah kesalah dari jumlah D Sin α
fy = ∑D Cos α ; fx adalah kesalah dari jumlah D Cos α
4. Tahap kegiatan perhitungan poligon (diatas formulir dihitung poligon) :
a. Jumlah sudut hasil pengukuran poligon; ∑β;
b. Kesalahan pengukuran (fβ) dihitung dengan rumus 3 atau 4; jika kesalahan masuk toleransi, cek hasil ukuran atau penghitungan.
c. Jika kesalah (fβ) toleransi; distribusikan dengan menambahkan kesalahan tersebut kesemua sudut sebesar (fβ/n) ; n adalah banyaknya sudut;
d. Mulai dari asimut awal ( sudut Jurusan) hasil pengukuran dilapangan, hitung asimut semua sisi-sisi poligon dengan rumus :

α(sisi sebelumnya) + β(terkoreksi) - 180°

Catatan : Sudut kanan terbentuk dari bacaan horizontal muka dikurangi bacaan horizontal belakang.
e. Hitung D Sin α dan D Cos α
f. Hitung
g. Hitung ∑ D, apakah 1 ; ∑D/FL toleransi :
h. Jika kesalahan masuk toleransi FL toleransi :
Hitung koreksi (Kxij) dan (Kyij) kesalahn FL kemasing-masing sisi poligon :
Kxij = (Dij/∑D).Fx ; untuk Kyij = (Dij/∑D). Fy
i. Hitung koordinat, masing-masing titik (X,Y) : mulai dari koordinat titik awal, tambahkan secara aljabar, baik untuk X maupun Untuk Y, dengan rumus :
Xj = Xj + Dij Sin αij + Kxij;
Yj = Yj + Dij Cos αij + Kyij;

D. Langkah Kegiatan
1. Persiapkan peralatan yang dibutuhkan serta periksa kelengkapannya.
2. Tentukan jalur poligon, dan pilih minimal 4 titik yang selanjutnya dipakai sebagai titik-titik poligon.
3. Perhatikan dengan benar syarat-syarat pemilihan titik poligon, diantaranya aman, mudah ditemukan kembali dan sehingga dapat dilihat dari titik-titik di depan dan dibelakangnya.
4. Lakukan pengukuran poligon tertutup itu dengan ketentuan teknis sebagai berikut :
a. Teodolit dengan tingkat ketelitian yang tersedia di laboratoriun STPN;
b. Target dibidik langsung pada titik (paku paying). Jika tidak kelihatan digunakan alat Bantu unting-unting yang dipasang vertical di atas titik. Benang pengait unting-unting tersebut dibidk sebagai target pengukuran;
c. Pengukuran sudut dilakukan dengan 2 seri rangkap, dengan toleransi bacaan antara sudut-sudut yang dihasilkan tidak lebih dari tiga kali ketelitian alat;
d. Pengukuran jarak sisi polygon dilakukan secara dengan pita ukur pergi-pulang;
e. Azimut awal dapat diambil di sembarang titik dengan bantuan kompas dilekatkan pada alat ukun teodolit (azimuth magnetis).
5. Cara penggunaan alat Bantu kompas tersebut sebagai berikut : pasang kompas pada teodolit, seimbangkan posisi pendulum kompas, sehingga – dalam posisi ini – teropong mengarah kea rah utara magnetis. Catat bacaan horizontal pada posisi ini. Akan lebuh menguntungkan apabila pada posisi ini dibuat bacaan horizontal 0°0’0” dengan sekrup limbus piringan horizontal. Selanjutnya bidik titik polygon terdekat (di depan) dan catat bacaan horizontal.
6. Data ukuran dituangkan dalam formulir;
7. Hitung hasil ukuran polygon;
8. Plot koordinat pada kertas millimeter, kemudian pindahkan ke kertas kalkir dengan format yang telah ditentukan.

E. Tugas
Buat Laporan kegiatan praktikum ini, yang berisi : acara praktikum, waktu dan tempat pelaksanaan, alat, tujuan intruksional khusus, dasar teori, tahap-tahap kegiatan dan hasil kegiatan, jawaban pendalaman materi.